muhammadanmuslim

muhammadanmuslim:

1. Makhachkala Grand Mosque - Dagestan, Russia

2. Akhmad Kadyrov Mosque - Chechnya, Russia

3. Sultan Ahmed Mosque - Istanbul, Turkey

4. Qolsharif Mosque - Tartarstan, Russia

5. Badshahi Mosque - Lahore, Pakistan

6. Masjid al-Haram - Makkah, Arabia 

7. Putra Mosque - Putrajaya, Malaysia

8. Hassan II Mosque - Casablanca, Morocco

9. Masjid an-Nabawi - Madinah, Arabia

10. Omar Ibn al-Khattab Mosque - Berlin, Germany

Bangunan yang selalu bikin excited

Ada orang yang jatuh cinta karena fisiknya
Ada orang yang jatuh cinta karena hartanya
Ada orang yang jatuh cinta karena kecerdasannya
Ada orang yang jatuh cinta karena kebaikannya
Ada orang yang jatuh cinta karena profesinya
Ada orang yang jatuh cinta karena kesederhanaanya
Ada orang yang jatuh cinta karena kesholehannya
Ada orang yang jatuh cinta karena tulisannya
Ada juga orang yang jatuh cinta karena gombalannya
Pun ada orang yang jatuh cinta karena kekonyolannya, mereka bilang, limited edition..
Dan aku tak punya semua itu, lantas, karena apa kau mencintaiku?
“Karena Allah” jawabmu

scienceyoucanlove

kqedscience:

Meet the First Woman to Win Math’s Most Prestigious Prize

As an 8-year-old, Maryam Mirzakhani used to tell herself stories about the exploits of a remarkable girl. Every night at bedtime, her heroine would become mayor, travel the world or fulfill some other grand destiny.

Today, Mirzakhani — a 37-year-old mathematics professor at Stanford University — still writes elaborate stories in her mind. The high ambitions haven’t changed, but the protagonists have: They are hyperbolic surfaces, moduli spaces and dynamical systems. In a way, she said, mathematics research feels like writing a novel. “There are different characters, and you are getting to know them better,” she said. “Things evolve, and then you look back at a character, and it’s completely different from your first impression.”

Learn more about Maryam Mirzakhani at wired.

mathematics research feels like writing a novel. “There are different characters, and you are getting to know them better….. absolutely :D

Berhijab?

Jika kemarin engkau masih memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhmu, longgarkanlah.

Jika kemarin kulitmu masih tampak oleh bajumu yg transparan, tukarlah dengan kain tebal yg sempurna menutup auratmu (semoga Allah memudahkan rezeki kita untuk menukar pakaian ini)

Jika kemarin dada indahmu masih menjadi konsumsi publik, panjangkanlah khimmarmu.

Jika kemarin jemari kaki lentikmu yg berkilau2 itu masih menjadi pusat perhatian orang, maka yuuk tutup mulai hari ini.

Dahulu, atas dasar kecantikan, kemolekan, kemulusanlah wanita dinilai„
Islam datang untuk mengangkat kehormatan wanita, memerintahkan hijab untuk melindungi, sekaligus merubah cara pandang pada wanita.
Tak lagi fisik yg dinilai bagai barang dagangan.
Saat islam datang, yg menjadi penilaian bertukar menjadi kecerdasan, akhlak, kegigihan, kelembutan, semangat juang, kasih sayang, kepedulian.

Jika alasan penundaan ketaatan karena khawatir dengan tampilan fisik kita, maka kita mundur jauuuuh ke 14 abad yg lalu, saat wanita dinilai semata dari fisiknya.
Saat wanita dinilai sangat rendah pada saat itu.

Maka Aturan mana lagikah yg maha sempurna? “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)

#yukberhijabyangbenar

Jika ancamanNya yg jelas tanpa kiasan saja tak lagi kita perhatikan, lantas masih pantaskah kita berharap Dia mengabulkan permintaan kita? Haruskah menunggu dicabut seluruh nikmat yg melenakan itu untuk taat?
Semoga tidak.

For me, for you, for us

Source : Ummu Balqis.. plus sedikit tambahan